POLA EKONOMI LOKAL DAN MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT PADA KAWASAN HUTAN CAGAR ALAM PEGUNUNGAN CYCLOOP JAYAPURA PAPUA INDONESIA

Cagar Alam Pegunungan Cycloop berfungsi sebagai kawasan yang mempunyai status sebagai kawasan lindung serta menjadi tempat bagi beberapa tumbuhan serta hewan endemik. Beberapa penelitian terakhir di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop menemukan adanya tingkat kerusakan hutan yang terus meningkat akibat aktifitas masyarakat dalam konversi hutan/lahan antara lain perladangan, pemukiman, penebangan yang terjadi secara alami. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa Cagar Alam Pegunungan Cycloops semakin terancam jika permasalahan ini tidak diatasi sejak dini. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat ketahanan pangan dan tingkat kesejahteraan petani serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan petani di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Penelitian ini dilakukan pada 11 titik lokasi dikawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Desember 2015. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan survei, metode pengumpulan data meliputi data primer dan sekunder. Analisis data menggunakan metoda kualitatif deskriptif dan metoda kuantitatif (analisis ketahanan pangan serta regresi berganda). Hasil penelitian menunjukan bahwa status petani yang kurang tahan pangan sebanyak 56% responden petani. Masyarakat dengan status rawan pangan sebesar 4 %, serta jumlah responden dengan status kurang sejahtera sebanyak 115 orang (88%) dari total responden petani. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas petani dikawasan CAPC adalah (1) Asal Responden (Dummy); (2) Ada Aturan Masyarakat Adat di CAPC (Dummy); (3) Jarak ke CAPC; (4)
Lama tinggal dikawasan CAPC; (5) Pekerjaan Responden; (6) Penerimaan Respoden; (7) Pengeluaran Responden.
Keywords: Papua, Cagar Alam, Ketahanan Pangan, Masyarakat Adat

RESILIENSI NAFKAH RUMAH TANGGA NELAYAN DARI DAMPAK PEMBANGUNAN WILAYAH DI TELUK YOUTEFA KOTA JAYAPURA

Kajian mengenai “Resiliensi Nafkah Rumah Tangga Nelayan dari dampak pembangunan wilayah di Teluk Youtefa Kota Jayapura” pada wilayah konservasi merupakan hal yang sangat menarik, kajian ini akan memberikan informasi mengenai dampak yang akan di terima langsung oleh masyarakat serta lingkungan akibat adanya aktivitas pembangunan wilayah di kota Jayapura terlebih lagi pada kawasan wisata teluk Youtefa dan hasil kajian ini akan memberikan salah satu acuan untuk merumuskan kebijakan publik untuk pelestarian serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan Teluk Youtefa.

Otonomi daerah telah memberikan banyak perubahan pada pengelolaan daerah dan pengelolaan keuangan daerah. Perubahan ini merupakan implikasi dengan disahkannya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan pembagian keuangan antar pusat dan daerah sehingga hal ini menyebabkan adanya perubahan dalam pengelolaan sumber-sumber daya alam yang berada di wilayah otonomi khusus. Perubahan pada pengelolaan sumber daya alam ini sangat dirasakan terutama bagi perubahan wilayah konservasi yang berada di kawasan Teluk Youtefa Kota Jayapura.

Kata kunci: resiliensi, rumahtangga, pembangunan wilayah, kawasan konservasi

 

Hello world!

Welcome to DOSEN IE. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Featuring WPMU Bloglist Widget by YD WordPress Developer