Papua Public Expenditure Analysis 2014

Since 2004, the World Bank has cooperated with the Papua Provincial Government and UNCEN-RFC in public expenditure analysis in Papua Province. Papua Province’s first report on Public Expenditure Analysis (hereinafter called PEA) was issued in 2006 and the second in 2009. Both focused on public expenditure within a Special Autonomy framework. The 2009 Papua Provincial PEA highlighted improvements in the allocation and use of Special Autonomy fund. Such programs as Strategic Plan for Village Development (RESPEK) and free education and health for indigenous people of Papua are among those targeting the allocated special autonomy fund directly towards beneficiaries.

As a continuation of its predecessors, the World Bank, Papua Provincial Government and UNCEN-RFC have worked together to develop this 2014 Papua PEA report. The report includes three chapters, one concerning Broad Budget Analysis (BBA) and two concerning development challenges and Sector-Wide Expenditure Analysis (SWEA) in the province’s two priority sectors of education and health. Education and health are the two sectors to which the Special Autonomy Law has given special attention. The two priority sectors were determined through a consultation process betwen the World Bank and UNCEN-RFC research team, and Papua Province’s Project Management Committee (PMC), and based on input from Papua provincial stakeholders. The report considers some interesting issues: (i) In the next 15 years, the Papua Province will potentially have a demographic bonus in which its productive age population (15-64 years old) is greater than its non-productive age population (0-14 and 65 years old and over); (ii) This will be a golden opportunity of which Papuan stakeholders should take advantage particularly to address three major challenges: quality of education for school age population (7-18 years old) and young age population (15-24 years old), quality of public health, and increase in employment; and (iii) Provincial spending and district/city spending should, to a possible extent, be aimed at responding to human resources development challenges in terms of education and health.

We hope that the report will make contributions to the Papua Provincial Government in particular and to all district/city governments throughout Papua, national government, stakeholders and Papua regional expenditure and development observers in general.

https://issuu.com/andhika7/docs/pea_papua_english

Papua public expenditure analysis (English)

Papua has abundant natural and fiscal resources but also faces great development challenges. On the one hand, Papua currently has the largest per capita fiscal capacity after West Papua. Papua is rich in natural resources such as non-oil-and-gas minerals and forest products. On the other hand, development challenges in Papua are significant, including geography, terrain and demography. In general, Papua is still underdeveloped both socially and in economic terms compared to other regions in Indonesia. This underdevelopment is evident in most poverty, education, health, and infrastructure indicators. The economy and investment in Papua are dominated by the mining sector and, in a distant second place, the agricultural sector. Between 2004 and 2007, the mining sector accounted for more than 50 percent of the Papua’s gross regional domestic product (GRDP). As a consequence, economic growth was determined by fluctuations in mineral commodity prices. The second largest sector is agriculture, which accounts for about 14-18 percent of GRDP. This sector absorbed the most workers in Papua province until 2008. Meanwhile, industry continues to lag and contributed less than 10 percent to GRDP. The PEA is a part of the PEACH (Public Expenditure Analysis and Capacity Harmonization) program. This program is an initiative of the Government of Papua to continuously improve its public financial management performance. Consequently, the analysis contained in this report addresses issues that are the region’s main focus. Today, the Government of Papua is trying actively to achieve a ‘New Papua’ through implementing the following agenda: a) restructuring the local government; b) developing a prosperous Papua; c) developing a safe and peaceful Papua; and d) improving and accelerating the development of basic infrastructure and facilities.

http://documents.worldbank.org/curated/en/540181468044658847/pdf/715520WP0Box370C00Papua0PEA0english.pdf

China launches a pork-price index to smooth the “pig cycle”

The world’s largest pork market needs further consolidation

PIG is big in China. As the country’s economy has grown, so too has its consumption of pork. The average Chinese person today pigs out on 40kg (88lbs) of pork a year, up from 12kg in 1980. Although China constitutes just one-fifth of the world’s population, it consumes half of its pork. Unfortunately for Chinese carnivores, however, the country has had trouble rearing enough pigs to meet growing demand. That has led to sharp price shocks.

China’s pork producers generally remain fragmented and inefficient. A fifth of the country’s domestic supply still comes from small-scale “backyard” farmers, who enter the market when prices suit them and exit just as abruptly. In recent years, such fluctuations in supply have contributed to large swings in prices, including spikes in 2008, 2011 and 2016. To smooth this boom-and-bust “pig cycle”, Chinese officials have used price controls, subsidies and even a “strategic pork reserve”.

Now, the government is trotting out yet another measure to hamstring opportunists in the pork market. In March China’s Ministry of Agriculture and the Dalian Commodity Exchange (DCE), a large commodities marketplace, launched the country’s first pork-price index. The new indicator, derived from daily data submitted by 89 hog producers across 16 provinces, will help farmers better understand market trends. Later this year, the DCE plans to launch a hog futures contract, which will allow buyers and sellers to hedge future price fluctuations. Such financial tools could help reduce volatility. But unless Chinese pork producers grow fat enough to absorb the regular ups and downs of the market, the country’s pig-price problems will persist.

http://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2017/04/daily-chart-16

 

KAJIAN PINJAMAN INVESTASI PEMERINTAH (KOTA JAYAPURA)

Kemampuan Keuangan Dalam Melakukan Pinjaman Investasi

  1. Kemampuan keuangan Pemerintah Kota Jayapura di dalam melakukan pinjaman berdasarkan kondisi keuangan tahun 2013 dinilai mampu melakukan pinjaman dari Badan Pengelola Investasi Pemerintah (PIP) karena trend pendapatan daerah setiap tahun terus meningkat dan proyeksikan. Selain itu, Pemerintah Kota Jayapura dinilai dapat menerima pinjaman karena sebelumnya belum pernah melakukan pinjaman.
  2. Berdasarkan jumlah pendapatan tahun 2013, jumlah pinjaman yang dapat diajukan oleh Pemerintah Kota Jayapura maksimal sebesar Rp500 milyar dalam jangka waktu pengembalian minimal lima tahun dengan tingkat suku bunga maksimal 10%.
  3. Besaran angsuran hutang pokok yang dapat di bebankan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Jayapura adalah minimal Rp.24.785.714.286 dan maksimal Rp.155.125.000.000. Sedangkan, bunga Pinjaman daerah yang dipakai dalam perhitungan DSCR adalah dengan ranges 10-13% karena diperlirakan lebih rendah dari bunga bank komersil

Rekomendasi Kebijakan

  1. Kondisi keuangan Pemerintah Kota Jayapura dinilai mampu untuk melakukan pinjaman dari Kementerian Keuangan melalui Badan Investasi Pemerintah karena tren pendapatan selama lima tahun terakhir menunjukkan pergerakan yang meningkat dan diproyeksikan akan tetap naik, dengan demikian batas maksimal jumlah pinjaman yang dapat diajukan untuk dipinjam adalah sebesar Rp750 milyar (75% dari total pendapatan berdasarkan PP No. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah).
  2. Berdasarkan jumlah pendapatan dan masa jabatan Walikota yang sedang menjabat saat ini, maka jumlah pinjaman yang dapat dilakukan adalah maksimal sebesar Rp250 milyar dengan jangka waktu 2 (dua) tahun dan dengan asumsi tingkat suku bunga 10 dan 11 persen. Sedangkan untuk asumsi tingkat suku bunga 12 sampai dengan 13 persen maka maksimal jumlah pinjaman adalah sebesar Rp225 milyar.
  3. Berdasarkan skema pokok pinjaman dan pengembalian, maka pemerintah Kota Jayapura bisa mengajukan pinjaman dalam jangka waktu lebih dari dua tahun dengan besaran pinjaman maksimal Rp500 milyar, tetapi dengan syarat atas persetujuan DPRD.

Analisis PDRB Provinsi Papua 2010-2015

Rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua selama kurun waktu 2011-2014 adalah sebesar 8.33 persen, dengan trend pertumbuhan yang semakin menurun. Dimana rata-rata pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 tercatat sebesar 8.66 persen, turun menjadi 7.87 persen pada tahun 2014. Hal ini lebih disebabkan oleh turunnya pertumbuhan ekonomi secara signifikan pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Papua. Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua juga memiliki GAP yang besar, dimana pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2011 adalah sebesar 25.41 persen (Kab. Intan Jaya) dan terendah sebesar 2.01 persen (Kab. Puncak Jaya).

Kota Jayapura adalah wilayah yang berkontribusi besar terhadap PDRB Provinsi Papua dengan rata-rata kontribusi selama tahun 2010-2014 sebesar 22.83 persen. Selain Kota Jayapura, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Merauke adalah wilayah dengan rata-rata kontribusi terhadap PDRB di atas 10 persen, selain itu juga terdapat 19 Kabupaten yang memiliki rata-rata kontribusi dibawah 2 persen terhadap PDRB Provinsi Papua. Sedangkan Kabupaten Yalimo adalah wilayah dengan rata-rata kontribusi terendah selama tahun 2010-2014 sebesar 0.73 persen.

Kota Jayapura adalah wilayah yang berkontribusi besar terhadap Total Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua dengan rata-rata kontribusi selama tahun 2011-2014 sebesar 2.31 persen. Selain Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura adalah wilayah dengan rata-rata kontribusi cukup tinggi terhadap Total Pertumbuhan Ekonomi di atas 1 persen, sedangkan 27 Kabupaten lainnya adalah wilayah dengan rata-rata kontribusi dibawah 1 persen terhadap Total Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua selama kurun waktu tahun 2011-2014.

Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Biak Numfor adalah wilayah dengan kontribusi terhadap total PDRB dan Kontribusi terhadap pertumbuhan total tertinggi, dibandingkan dengan rata-rata kontribusi PDRB sebsar 3,45 persen dan rata-rata kontribusi pertumbuhan total sebesar 0.29 persen. Selain itu, Kabupaten Boven Digoel adalah wilayah dengan Kontribusi terhadap total PDRB dengan kategori rendah, namun memiliki kontribusi yang tinggi terhadap pertumbuhan total jika dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Papua. Sedangkan wilayah lain selain Kabupaten/Kota di atas, merupakan wilayah dengan kontribusi terhadap total PDRB dan kontribusi terhadap pertumbuhan total terendah dibandingkan dengan rata-rata kontribusi Provinsi Papua.

Struktur Ekonomi Kabupaten/Kota Berdasarkan PDRB Menurut Lapangan Usaha Utama (pertanian, industri, dan jasa) pada tahun 2014 di Provinsi Papua, lebih didominasi oleh lapangan usaha jasa yang rata-rata mencapai 70 persen. Kota Jayapura adalah wilayah dengan lapangan usaha Jasa terbesar pada struktur ekonomi Kabupaten/Kota berdasarkan PDRB menurut lapangan usaha jasa di Provinsi Papua, yaitu sebesar 91.74 persen. Untuk langan usaha pertanian, Kabupaten Sarmi merupakan wilayah dengan lapangan usaha Pertanian terbesar pada struktur ekonomi Kabupaten/Kota berdasarkan PDRB menurut lapangan usaha di Provinsi Papua sebesar 36.42 persen. Sedangkan untuk sektor Industri, Kabupaten Mimika adalah wilayah dengan lapangan usaha industri terbesar pada struktur ekonomi Kabupaten/Kota berdasarkan PDRB menurut lapangan usaha industri di Provinsi Papua, yaitu sebesar 40.15 persen.

Kota jayapura adalah wilayah dengan rata-rata pendapatan Perkapita tertinggi di Provinsi Papua selama kurun waktu 2011-2014, yang mencapai Rp.51.634 juta, atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata pendapatan perkapita Provinsi Papua yang hanya sebesar 20.55 persen. Terdapat 13 Kabupaten/Kota di Provinsi Papua yang pendapatan perkapitanya lebih tinggi dari rata-rata pendapatan perkapita Provinsi Papua. Sedangkan 16 Kabupaten/Kota lainnya memiliki rata-rata pendapatan perkapita di bawah rata-rata pendapatan perkapita Provinsi Papua.

Kabupaten Jayapura, Waropen, Mamberamo Raya, Kota Jayapura, Nabire, dan Keerom adalah wilayah di Provinsi Papua yang memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan tingkat pendapatan perkapita yang tinggi, dari rata-rata pertumbuhan dan pendapatan perkapita Provinsi Papua. Sedangkan Kabupaten Merauke, Supiori, Kepulauan Yapen, Sarmi, Biak Numfor, Mimika dan Boven Digoel adalah wilayah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi yang rendah, namun memiliki rata-rata pendapatan perkapita yang tinggi. Selain itu, Kabupaten Intan Jaya, Lanni Jaya, Nduga, Mamberamo Tengah, Deiyai, Yalimo, Dogiay, dan Yahukimo adalah wilayah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun memiliki rata-rata pendapatan perkapita yang rendah. Sedangkan Kabupaten Puncak, Asmat, Paniai, Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Mappi, Tolikara, dan Puncak Jaya adalah wilayah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi yang rendah, dan juga memiliki rata-rata pendapatan perkapita yang rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan dan pendapatan perkapita Provinsi Papua.

Featuring WPMU Bloglist Widget by YD WordPress Developer